Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Pengingat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengingat. Tampilkan semua postingan

Keteladanan Amirul Mukminin Umar Bin Khatthab

Panglima perang yang memimpin penyerangan ke Persia, Utbah bin Ghazwan, menerima surat perintah Amirul Mukminin, Khilafah Umar bin Khatthab, meminta agar mengirim sepuluh orang prajurit utama dari pasukannya yang telah berjasa dalam perang. Perintah itupun segera dilaksanakan oleh Utbah. Beliau mengirim sepuluh orang prajuritnya yang terbaik kepada Amirul Mukminin di Madinah, termasuk Ahnaf bin Qais. Berangkatlah mereka ke Madinah menemui Amirul Mukminin Umar ibn Khatthab.
Ketika mereka tiba di Madinah langsung disambut oleh Amirul Mukminin dan dipersilahkan duduk di majelisnya. Amirul Mukminin Umar Ibn Khatthab menanyakannya dan kebutuhan rakyat semuanya. Mereka berkata : “Tentang kebutuhan rakyat secara umum Amirul Mukminin lebih tahu, karena Amirul Mukminin adalah pemimpinnya. Maka kami hanya berbicara atas nama pribadi kami sendiri”, ucap diantara prajurit yang hadir di majelis itu.
Saat itu, Ahnaf bin Qais mendapatkan kesempatan terakhir berbicara, karena ia terhitung yang paling muda, diantara para prajurit yang ada. Kemudian, Qais berkata : “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya tentara kaum muslimin yang dikirim ke Mesir, mereka tinggal di daerah yang subur menghijau dan tempat yagn mewah peninggalan Fir’aun", ucap Ahnaf.
"Sedangkan pasukan yang dikirim ke negeri Syam, mereka tinggal di tempat yang nyaman, bnayak buah-buahan dan taman-taman layaknya istana. Sedangkan pasukan yang dikirim ke Persia, mereka tinggal di sekitar sungai yang melimpah air tawarnya, juga taman-taman buah-buah peninggalan para kaisar”, ujar Ahnaf.
Namun kami dikirim ke Bashrah, mereka tinggal di tempat yang kering dan tandus, tidak subur tanahnya dan tidak pula menumbuhkan buah-buahan. Salah satu tepinya laut yang asin, tepi yang satunya hanyalah hamparan yang tandus. Maka perhatikanlah kesusahan mereka wahai Amirul Mukminin. Perbaikilah kehidupan mereka perintahkan gubernur Anda di Bashrah untuk membuat aliran sungai agar memiliki air tawar yang dapat menghidupi ternak dan pepohonan. Perhatikanlah mereka dan keluarganya, ringankanlah penderitaan mereka, karena mereka menjadikan hal itu sebagai sarana untuk berjihad fi sabilillah”, tambah Ahnaf.
Umar merasa sangat takjub mendengar uraian Ahnaf, kemudian bertanya kepada utusan yang lain. “Mengapa kalian tidak melakukan seperti yang dia lakukan”, tanya Umar. “Sungguh dia (Ahnaf) adalah seorang pemimpin”, ujar seorang diantara prajurit itu.
Kemudian Umar mempersiapkan perbekalan mereka dan menyiapkan perbekalan untuk Ahnaf. Namun, Ahnaf berkata: “Demi Allah wahai Amirul Mukminin, tiadalah kami jauh-jauh menemui Anda dan memukul perut onta selama berhari-hari demi mendapatkan perbakalan. Saya tidak memiliki keperluan selain keperluan kaumku seperti yang telah saya katakan kepada Anda. Jika Anda mengabulkannya, itu sudah cukup bagi Anda”, tegas Ahnaf. Rasa takjub Umar semakin bertambah, lalu Umar berkata : “Pemuda ini adalah pemimpin penduduk Bashrah”, tegas Umar.
Usai mejalis itu dan para utusan meninggalkannya, dan pergi ke tempat menginap yang sudah disediakannya. Umar melayagkan pandangannya ke barang-barang mereka. Dari salah satu bungkusan tersembul sepotong pakaian. Umar menyentuhnya sambil bertanya : “Miliki siapa ini?”.
Ahnaf menjawab : “Milik saya Amirul Mukminin”, jawabnya. Kemudian Umar bertanya : “Berapa harganya baju ini tatkala kamu membelinya?”. Ahnaf berkata : “Delapan dirham”, sahutnya. Ahnaf tidak pernah berbohong, kecuali kali ini, yang sesungguhnya baju itu dia beli dengan harga 12 dirham.
Umar menatapnya dengan penuh kasih sayang. Dengan halus dia berkata : “Saya rasa untukmu cukup satu potong saja, kelebihan harta yang kau miliki hendaknya kamu pakai untuk membantu muslim lainnya”. Selanjutnya, Umar berkata kepada para prajurit pilihan itu, yang hendak kembali ke Bashrah : “Ambillah bagi kalian yang diperlukan dan gunakan kelebihan harta kalian pada tempatnya, agar ringan beban kalian dan banyak mendapatkan pahala”, Ahnaf tertunduk malu mendengarkan nasihat Amirul Mukminin itu.
Perjumpaan Ahnaf dengan Umar berlangsung satu tahun. Umar merasa bahwa Ahnaf adalah kader yang memiliki kepribadian yang mulia setelah mengujinya. Kemudian Amirul Mukminin mengutus Ahnaf untuk memimpin pasukan ke Persia. Umar berpesan kepada panglimanya, Abu Musa al-Asy’ari : “Untuk selanjutnya ikutkanlah Ahnaf sebagai pendamping, ajak dia bermusyawarah dalam segala urusan dan perhatikanlah usulannya”, ujar Umar.
Ahnaf memang masih sangat belia. Tetapi, Ahnaf salah seorang tokoh dari Bani Tamim yang sangat dimuliakan kaumnya. Kaum Bani Tamim sangat berjasa dalam menaklukkan musuh, dan mempunyai prestasi yang cemerlang dalam berbagai peperangan. Termasuk dalam peperangan besar menaklukan kota Tustur dan menawan pemimpin mereka, yaitu Hurmuzan.
Humurzan adalah pemimpin Persia paling berani dan kuat serta keras. Hurmuzan juga ahli dalam strategi perang, dan berkali –kali menghkhianati kaum muslimin.
Tatkala dalam posisi terdesak di salah satu bentengnya yang kokoh di Tustur, dia masih bisa bersikap sombong. “Aku punya seratus batang panah. Dan demi Allah, kalian tidak mampu menangkapku sebelum habis panah-panah ini”, ujarnya. Kemudian pasukan Islam bertanya kepadanya : “Apa yang engkau kehendaki?”. “Aku mau diadili dibawah hukum Umar bin Khatthab. Hanya dia yang boleh menghukumku”, ucap Hurmuzan. Pasukan Islam itu menjawab : “Baiklah. Kami setuju”. Lalu, Humurzan meletakkan panahnya ke tanah, sebagai tanda menyerah.
Pasukan Islam yang dipimpin panglima Anas bin Malik dan Ahnaf itu, membawa Humurzan ke Madinah, dan menghadap Amirul Mukminin. Setibanya dipinggiran kota Madinah, mereka menyuruh Humurzan menggunakan pakaian kebesarannya, yang terbuat dari sutera mahal bertabur emas permata dan berlian. Di kepalanya bersemanyam mahkota yang penuh dengan intan berlian yang sangat mahal.
Humurzan langsung dibawa ke rumah Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, tetapi beliau tidak ada di rumah. Seseorang berkata, beliau pergi ke masjid. Rombongan itu pergi ke masjid, namun tak terlihat ada didalam masjid. Saat rombongan mondar-mandir mencari Amirul Mukminin, salah seorang penduduk berkata: “Anda mencari Amirul Mukminin?” “Benar, di mana Amirul Mukminin?”, ujarnya mereka. Lalu, seorang anak diantara penduduk itu, menyahut: “Beliau tertidur di samping kanan masjid dengan berbantalkan surbannya”.
Rombongan itu mendapatkan Amirul Mukminin sedang lelap disamping masjid. Tanpa mendapatkan penjagaan. Memang Umar sangat terkenal kezuhudan dan kesederhanaannya. Tetapi, sesungguhnya lelaki yang zuhud dan sederhana ini telah menaklukan Romawi dan raja-raja lain, dan tidur tanpa bantal dan tanpa pengawal.
Kemudian, Humurzan melihat isyarat dari ‘Ahnaf, dan bertanya : “Siapakah orang yang tidur itu?”, tanya Hurmuzan. “Dia Amirul Mukminin Umar bin Khatthab”, jawab Mughirah. Betapa terkejutnya Humurzan, lalu dia berkata : “Umar? Lalu, di mana pengawalnya atau penjaga?”, tambah Hurmuzan. “Beliau tidak memiliki pengawal”, tambah Mughirah. “Kalau begitu, pasti dia nabi”, tambah Hurmuzan. “Tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa sallam”, tegas Mughirah.
Saat Umar terbangun, dan melihat Hurmuzan, dan berkata : “Aku tak sudi berbicara dengannya sebelum kalian melepas pakian kemegahan dan kesombongan itu”, tegas Umar. Mereka melucuti kemewahan pakaian Hurmuzan, kemudian memberikan gamis untuk menutup auratnya. Sesudah itu Umar menjumpainya, dan berkata : “Bagaimana akibat pengkhianatan dan ingkar janjimu itu?”
Dengan menunduk lesu, Hurmuzan serta penuh dengan kehinaan ia berkata : “Wahai Umar, pada masa jahiliyah, ketika antara kalian dengan kami tidak ada Rabb, kami selalu menang atas kalian. Tapi begitu kalian memeluk Islam, Allah menyertai kalian, sehingga kami kalah. Kalian menang atas kami memang, karena hal itu, tetapi juga karena kalian bersatu, sedangkan kami bercerai berai”, ungkap Hurmuzan.
Penguasa yang sudah kalah dan menyerah itu, merasakan kasih dalam Islam, dan akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadah, dan masuk Islam. Inilah kebesaran Islam, yang telah diteladai para pemimpinnya, dan menjalankan Islam dengan sungguhnya. Tidak sedikitpun mereka berkhianat terhadap Islam, sampai akhirnya musuhpun memeluk Islam, karena merasa mendapatkan kemuliaan dalam Islam. Wallahu’alam.


sumber : eramuslim.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tahanlah Amarah

Mengendalikan amarah memang tidak mudah. Dan, hanya orang-orang tertentu yang bisa menahan dan mengendalikan kemarahannya. Amarah ada di dalam diri manusia. Amarah adalah motivasi atau energi yang mendorong dan menggerakkan seseorang untuk berbuat. Alangkah baiknya bila amarah itu diarahkan untuk menopang kinerja dan kreativitas hidup, sehingga menjadi lebih dinamis.

Banyak kerugian yang akan didapatkan ketika seseorang sedang emosi dan tak mampu mengendalikan amarahnya. Pekerjaan bisa menjadi terbengkalai dan rekan sejawat pun bisa kena marah pula. Akibatnya, persoalan kecil bisa menjadi besar.

"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (QS al-Anbiya [21]: 87).

Rasulullah SAW bersabda, Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, "Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW; 'Nasihatilah saya!' Rasulullah SAW bersabda, 'Janganlah kamu marah!' Orang itu berkali-kali meminta nasihat kepada Rasulullah SAW, tetapi Rasul tetap menjawabnya dengan, 'Janganlah kamu marah'." (HR Bukhari).

Dari hadis di atas, tampak jelas bahwa Rasulullah SAW memerintahkan manusia untuk senantiasa menahan marahnya ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan dirinya. Sebab, akan banyak kerugian yang akan diterima, manakala kita tidak mampu menahan amarah.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz melihat seseorang yang mabuk. Ketika ia ditangkap untuk dihukum dera, tiba-tiba ia dimaki oleh orang yang mabuk tersebut. Khalifah Umar tidak jadi melaksanakan hukum deranya. Melihat Khalifah Umar seperti  itu, para sahabat bertanya, "Ya amirul mukminin, mengapa setelah ia memaki Anda tiba-tiba Anda meninggalkan dia?" Khalifah menjawab, "Itu karena ia membuat aku jengkel. Kalau aku menghukumnya, mungkin karena aku marah kepadanya, bukan karena ia melanggar hukum Allah, dan aku tidak suka memukul seseorang hanya karena membela diriku sendiri."

Sangat tipis dan susah untuk membedakan antara menghukum karena Allah SWT dan menghukum karena amarah. Karena bagaimanapun, ketika kita menghukum, amarah akan menyertai bentuk hukuman yang kita berikan. Tidak seperti yang menimpa Khalifah Umar yang tidak bisa meneruskan eksekusi, karena takut berbuat salah dengan tidak tulus menghukum orang yang berbuat salah.

Hal yang sama juga pernah dialami Sayyidina Ali ra yang tidak jadi membunuh ketika sedang berada di medan perang lantaran ia telah diludahi oleh musuh yang sudah tak berdaya. Ali RA khawatir kalau membunuh musuhnya tersebut, bukan semata-mata karena menegakkan agama Allah, melainkan akibat dorongan nafsu dan emosi.

Dalam kehidupan sehari-hari, begitu banyak kita temukan perselisihan di antara manusia. Bahkan, hampir semua manusia akan mudah terpancing emosinya, hingga kemudian meledaklah kemarahannya.

sumber : republika.co.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nikmatnya Ilmu Pengetahuan



{Dan, Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.Dan adalah karunia Allah itu sangat besar}(QS.An-nisa :113)

Kebodohan merupakan tanda kematian jiwa, terbunuhnya kehidupan dan membusuknya umur.

{Sesungguhnya Aku mengingatkan kepadamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.}(QS.Hud :46)

Sebaliknya, ilmu adalah cahaya bagi hati nurani, kehidupan bagi ruh dan bahan bakar bagi tabiat.

{Dan, apakah orang yang mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia,serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang berkali-kali tidak dapat keluar dari padanya?}(QS.Al-An'am:122)

Kebahagiaan,ketentraman, dan kedamaian hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan.Itu,karena ilmu mampu menembus yang samar,menemukan sesuatu yang hilang, dan menyingkap yang tersembunyi.Selain itu, naluri dari jiwa manusia itu adalah selalu ingin mengetahui hal-hal yang baru dan ingin mengungkap sesuatu yang menarik.

Kebodohan itu sangat membosankan dan menyedihkan.Pasalnya, ia tidak pernah memunculkan hal baru yang lebih menarik dan segar;yang kemarin seperti hari ini, dan yang hari ini pun akan sama dengan yang akan terjadi esok hari.

Bila anda ingin senantiasa bahagia, tuntutlah ilmu,galilah pengetahuan,dan raihlah pelbagai manfaat, niscaya semua kesedihan,kepedihan dan kecemasan akan sirna.

{Dan, katakanlah:"Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."}(QS.Thaha:114)

{Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan.}(QS.Al-'Alaq;1)

"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan pandaikan ia dalam agama"(Al-Hadits)

Janganlah seseorang sombong dengan harta atau kedudukannya, kalau memang ia tak memiliki ilmu sedikit pun.Sebab, kehidupannya tidak akan sempurna.

{Adakah orang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan kepadamu itu benar sama dengan orang yang buta}(QS.Ar-Ra'd;19)

Az-Zamakhsyari,dalam sebuah syairnya berkata:

{malam-malamku untuk merajut ilmu yang bisa dipetik,

menjauhi wanita elok dan harumnya leher

Aku mondar-mandir untuk menyelesaikan masalah sulit,

lebih menggoda dan manis dari berkepit betis nan panjang

bunyi penaku yang menari diatas kertas-kertas,

lebih manis daripada berada di belaian wanita dan kekasih

bagiku lebih indah daripada melemparkan pasir ke atas kertas

daripada gadis-gadis yang menabuh dentum rebana

hai orang yang berusaha mencapai kedudukannya lewat angannya,

sungguh jauh jarak antara orang yang diam dan yang lain, naik

apakah aku yang tidak tidur selama dua purnama dan engkau tidur nyenyak,setelah itu engkau ingin menyamai derajatku}

Alangkah mulianya ilmu pengetahuan,alangkah gembiranya jiwa seseorang yang menguasainya,alangkah segarnya dada orang yang penuh dengannya, dan alangkah leganya perasaan seseorang yang menguasainya.

{Maka apakah orang yang berpegang teguh pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk dan mengikuti hawa nafsunya?}(QS.Muhammad:14)
Sumber :
*Al-Quran
*Hadits
*La Tahzan (DR.Aidh Al-Qarni)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Isi Waktu Luang Dengan Berbuat


Orang-orang yang banyak menganggur dalam hidup ini, biasanya akan menjadi penebar isu dan desas-desus yang tak bermanfaat.Itu, karena akal pikiran mereka selalu melayang-layang tak tahu arah.

{Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang.}

(QS.At-Taubah:87)

Saat paling berbahaya bagi akal adalah manakala pemiliknya menganggur tanpa kegiatan, bersiaplah untuk bersedih,gundah, dan cemas! sebab, dalam keadaan kosong itulah pikiran anda akan menerawang kemana-mana;dari mengingat kegelapan masa lalu,menyesali kesialan masa kini,hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu anda alami.Dan itu, membuat akal pikiran anda lepas kendali dan tak terkontrol.Maka amalan-amalan yang bermanfaat adalah lebih baik daripada terlarut dalam kekosongan yang membinasakan.Singkatnya,membiarkan diri dalam kekosongan sama halnya dengan bunuh diri dan merusak tubuh dengan narkoba.

Waktu kosong itu tak ubahnya dengan siksaan halus ala penjara Cina;meletakkan si narapidana di bawah pipa air yang hanya dapat meneteskan air satu tetes setiap menit selama bertahun-tahun.Dan dalam masa penantian yang panjang itulah,biasanya seorang napi akan menjadi stres dan gila.

Berhenti dari kesibukan itu kelengahan, dan waktu kosong adalah pencuri yang culas.Adapun akal anda,tak lain merupakan mangsa empuk yang siap dicabik-cabik oleh ganasnya terkaman kedua hal tadi;kelengahan dan si "pencuri".

Karena itu bangkitlah sekarang juga; kerjakan shalat, baca buku, bertasbih,mengkaji, menulis, merapikan meja kerja,merapikan kamar,atau berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain untuk mengusir kekosongan itu!Ini, karena kita tidak boleh berhenti sejenak pun dari melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Bunuhlah setiap waktu kosong dengan "pisau" kesibukan!Dengan cara itu,dokter-dokter dunia akan berani menjamin bahwa anda telah mencapai 50% dari kebahagiaan.Lihatlah para petani,nelayan,dan para kuli bangunan;mereka dengan ceria mendendangkan lagu-lagu seperti burung-burung di alam bebas!.

Sumber:
*Al-Quran
*La Tahzan(DR.Aidh Al-Qarni)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS